Dunia Super Duper



Satu bayi harus ditinggal!

Itu pasti karena salah saya. Itu pasti karena saya terlalu lama mendiamkannya dalam perut.  Seandainya saja saya lebih cepat, kuat dan tidak manja, mungkin keadaannya akan lebih baik!

Kondisi bayi kedua yang belum stabil mengakibatkan dia harus dirawat lebih intensif.  Melihatnya dalam ruang inkubator membuat saya merasa sangat terpukul. Perasaan bersalah terus memenuhi pikiran karena saat proses persalinan saya sempat mau menyerah.

Walau semua orang memberi semangat dan katakan itu bukan salah saya, tapi nyatanya melihat bayi yang mungil dalam ruangan kaca itu membuat saya sangat sedih. Saat sampai rumah pun tidak menunjukan rasa bahagia seperti ibu melahirkan lainnya. Saya merasa sangat hampa dan serba salah.

Kehadiran bayi yang satu dalam gendongan tidak membuat saya merasa lega karena terus memikirkan bayi yang di rumah sakit. Setiap saat menangis, dan terus menyalahkan diri sendiri.  Saya jadi tidak fokus dengan kesehatan sendiri.

Akhirnya demam tinggi mulai datang pada malam hari. Tubuh saya menggigil dengan hebat bahkan sampai tidak kuat untuk bangun. Saya pun jadi semakin tidak fokus dengan bayi yang ada di rumah. Dia jadi sering menangis.

Emak bilang, kalau ibu dan bayi punya hubungan batin yang kuat. Ketika ibu gelisah, maka bayi juga akan merasakan. Dan memang itu yang terjadi, saat saya gelisah bayi yang di rumah jadi rewel. Begitu juga dengan bayi yang di rumah sakit sering menangis tiba-tiba. Begitu menurut laporan dari perawat di ruang bayi.

Dari situ mulai sadar kalau kecemasan saya juga dirasakan oleh mereka. Tidak mau lakukan kesalahan kembali, maka saya putuskan untuk tenang dan mulai fokus dengan kesehatan agar cepat pulih. Saya ingin maksimal mengurus anak-anak.

Selama 4 hari bayi kedua itu harus terpisah. Seiring dengan kesehatan saya yang semakin membaik, akhirnya bayi kedua itu pulang ke rumah. Saya sangat bahagia dan semangat menyambut kedatangannya. Dari situ saya mulai merasakan kebanggan menjadi seorang perempuan yang telah melahirkan dua bayi dengan sehat dan selamat.

Ana dan Ane. Itulah nama yang kami berikan. Kehadiran mereka menjadi berkah yang sangat indah bagi keluarga. Bulan Ramadhan ini Nane menjadi pusat perhatian, tempat curahan kasih sayang dan sumber kebahagiaan untuk orang banyak.

Bahkan saat hari raya Idul Fitri tiba, mereka menjadi bintang keluarga. Semakin banyak saudara, dan kerabat yang berkunjung. Mereka menyambut dan turut mendoakan Nane. Keunikan anak-anak yang lahir kembar sudah pasti jadi bahan perbincangan. Bahkan banyak di antara tamu yang berebut untuk menggendongnya.

Baca juga: Banyak cinta Untuk Nane

Setelah lebaran, saya bawa mereka pulang ke rumah. Saya bertekad ingin  mengurus mereka sendiri. Semua resiko sudah dipikirkan dan saya merasa siap untuk hadapi itu semua.

Tapi ternyata tidak semudah yang dipikirkan. Kehadiran dua anak kembar ini menghadirkan dinamika kehidupan yang baru, terutama untuk saya. Walau sudah berusaha untuk tenang, nyatanya sifat sensitif sering muncul. Panik ketika mereka berdua nangis, bingung ketika mereka minta susu, pusing saat harus mengganti popok, dan kesal ketika mereka sering terbangun saat malam hari.

Mungkin setiap perempuan yang baru pertama kali melahirkan akan rasakan yang sama. Tapi dengan dua bayi sekaligus, ini benar-benar ujian bagi saya. Menyesuaikan keadaan dan kebiasaan dengan tiba-tiba membuat semua sisi kehidupan berubah drastis. Ada banyak hal yang harus dipelajari dan ditangani dengan bersamaan sekaligus, sementara keadaan saya masih belum stabil.

Pekerjaan seakan tidak pernah selesai. Waktu istirahat semakin berkurang. Pekerjaan bertambah banyak. Beban pikiran juga semakin ekstra. Pusing!

Kebutuhan susu formula anak-anak juga malah semakin besar. ASI saya tidak cukup untuk penuhi kebutuhan mereka berdua sekaligus. Mereka hanya mendapatkan ASI hingga usia 4 bulan saja. Sementara untuk jenis susu yang cocok pun harganya lumayan mahal.

Guncangan emosi itu kembali terjadi. Kesibukan yang terus terjadi bukan hanya menguras energi, tapi juga hati. Sifat saya yang cengeng kembali muncul. Sering menangis tiba-tiba, apalagi jika Nane sudah nangis bersamaan sementara saya sudah sangat lelah.

Merasa tidak beres dengan kondisi seperti ini saya lalu coba merenungi kembali. Saya perhatikan wajah kedua bayi mungil itu ketika terlelap tidur. Lagi-lagi pesan Emak yang muncul dalam benak. Kalau saya tenang, maka anak-anak juga akan tenang. Kalau saya gelisah, maka mereka juga akan akan rasakan itu.

Saya coba mengingat kembali setiap kejadian. Setiap kali saya tidak tenang, anak-anak malah makin rewel. Nangis bergantian, bolak-balik pipis,  susah tidur dan masih banyak kesulitan lain saat mengurus mereka. Akhirnya saya sadari juga, kalau itu semua bisa jadi karena hati yang tidak tenang. Sehingga sedikit permasalahan menjadi emosi.

Saya mulai menenangkan hati, ubah mindset dan menyesuaikan kebiasaan sehari-hari. Mulai sedikit lebih santai dan menikmati semua proses. Tujuan utamanya adalah mengurus Nane. Memastikan mereka mendapat perhatian dan pelayanan yang maksimal. Urusan rumah tangga yang lainnya, saya kerjakan dengan tidak ngotot.

Saya juga mulai membagi tugas dan mendelegasikan pekerjaan yang memang tidak bisa dilakukan. Memanfaatkan waktu ketika mereka tidur untuk lakukan pekerjaan lain atau justru ikut beristirahat. Dan satu yang sangat penting adalah menurunkan ego yang selalu ingin lakukan semua sendiri, sempurna dan cepat. Itulah yang sering menjadi pemicu masalah dalam diri saya sendiri.

Ternyata cara itu cukup efektif. Saya mulai menikmati kebersamaan dengan Nane. Walau harus begadang tiap malam karena mereka bergantian pipis atau minta susu. Harus bolak balik menggendong ketika mereka menangis. Dan banyak lagi kejadian yang akhirnya dapat saya nikmati tanpa rasa sedih ataupun kesal.

Nane, kalian membuat dunia Ummi menjadi semakin super. Saat ini Ummi sering rindukan tangisan kalian selagi masih bayi. Aaahhh, kehadiran kalian memang membuat banyak perubahan. Tak hanya perubahan fisik ataupun keadaan, tapi dalam usia 23 tahun, dua bayi mungil kesayangan Ummi ini membuat mental juga ditempa dengan pikiran yang harus semakin dewasa.

Ya... ternyata semua itu membutuhkan proses dan kesadaran dari diri sendiri. Keadaan dapat membaik ketika kita mampu berubah. Bukan mengharap orang lain untuk berubah, dan menyalahkan keadaan.

Membangun pola pikir positif akan membawa pengaruh yang baik untuk kehidupan di sekitar. Tentunya, semua harus kembali dipagari dengan keimanan. Selalu bersyukur dan mengingat semua kebaikan Allah akan menjadi batasan untuk kembali menata hati.



16 komentar:

  1. Masya Allah Mbak, punya putri kembar ya. Sekarang dah usia berapa putrinya? Perjuangannya sangat berat ya Mbak, merawat dua bayi sekaligus. Apalagi tanpa asisten. Hanya dengan kesabaran dan keimanan kita mampu melewatinya. Semoga menjadi anak-anak yang solihah ya Mbak.

    BalasHapus
  2. Bener mba. Menurut aku jadi seorang ibu dan menjalani peran kita sebagai ibu itu, bukan sesuatu yang mudah. Terkadang karena saking lelahnya dengan peran itu dan istri aku pernah juga menangis sendirian. Setelah puas menangis rasanya lega dan kembali menguatkan diri dan menikmati prosesnya. Sampai sekarang aku masih belajar juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, betul. Jadi orang tua itu merupakan proses belajar sepanjang masa. Kayaknya sampai nanti tua pun kita akan terus belajar untuk menjadi orang tua yang terbaik untuk anak.

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Seru ya mbak punya bayi kembar. Meski katanya merepotkan. Orang hanya melihat bagian luar. Mereka nggak tahu apa yang kita rasakan. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak, seru banget. Memang repot ketika masih kecil tapi sekarang sudah besar malah rindukan masa mereka kecil, hehe

      Hapus
  5. MasyaAllah, terharu banget Dewi bacanya mbak. Perjuangan seorang ibu memang luar biasa. Semoga menjadi anak-anak yang sholihah ya mbak. Ikatan batin ibu dan anak memang tidak bisa dipungkiri:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Iya Mbak, semua ibu pasti miliki perjuangan luar biasa untuk anak-anaknya.

      Hapus
  6. Luar biasa lika-likunya, kebayang Mbak gimana rasanya harus ninggal satu anak. Saya yg terpisah semalam aja gak tenang. Tapi alhamdulillah semua bisa dilewati ya, Mbak. Memang pola pikir kita mempengaruhi energi dalam tubuh. Kalau mikirnya positif ya energinya positif, aura baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu Mbak, kuncinya memang di pola pikir. Butuh usaha keras untuk membiasakannya, ya...

      Hapus
  7. Masya Allah, anaknya kembar, mba? Meski gak punya anak kembar tapi saya bisa merasakan apa yg dirasakan saat itu. Maklum, keempat anakku lahir dengan jarak usia yg tdk terlalu jauh. Alhamdulillah, sekarang anak2 udah besar, eh saya malah merindukan saat2 kerempongan tersebut.
    Selalu semangat ya, mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, betul banget Mbak... ketika anak sudah besar kita malah sangat rindukan masa kecilnya, ya...

      Hapus
  8. Wah kembar 😍. MasyaAllah..
    Jadi inget saudara jauh dari keluarga suami. Tiga kali melahirkan, tiga kali juga kembar. Sekarang anaknya sudah 7,soalnya lahiran kedua kembar tiga 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mashaa Allah, pasti seru ya keluarganya. Rame... saya dua aja seru.

      Hapus
  9. Masya Allah mbak..salut saya, semoga Nane tumbuh sehat dan solehah. Pintar dan membanggakan keluarga ya. Setuju..selalu bersyukur dan mengingat kebaikan Allah adalah penguat kita

    BalasHapus