Kalian Memang Keren!



Orang dewasa saja sulit mengubah kebiasaan yang sudah buat nyaman, apalagi anak kecil?

PR besar buat saya adalah ketika melepas kebiasaan minum dot Nane. Banyak orang bercerita masa ini merupakan hal sulit. Sama halnya dengan melepas ASI, butuh usaha yang tepat dan hati-hati agar anak tidak merasa trauma.

Beberapa kasus yang terjadi anak memang berhasil lepas dari ASI atau dot, tapi efeknya malah tidak mau minum susu. Ini terjadi karena ada trauma saat melepas anak minum ASI atau dot. Sehingga dalam benaknya susu adalah sesuatu yang tidak enak, dan akhirnya mogok minum susu lagi.

Jelas hal ini tidak mau terjadi pada Nane. Saya hanya inginkan mereka berhenti minum susu menggunakan dot dan mulai minum menggunakan gelas. Saya mulai berpikir bagaimana cara yang tepat.

Langkah pertama adalah dengan menyediakan gelas minum khusus bayi dengan berbagai bentuk dan gambar agar menarik. Lalu mulai membiasakan mereka untuk minum dengan menggunakannya saat siang. Sementara malam hari, saya masih beri izin mereka untuk menggunakan dot.

Saat itu Nane sudah sering dibacakan cerita sebelum tidur. Saya sering selingi dengan cerita cara yang baik untuk minum susu, mengajak mereka menggunakan gelas, dan motivasi lainnya agar mereka sadar bahwa usianya sudah besar dan tidak butuh dot lagi.

Masih butuh usaha, nyatanya saat dot sudah berlubang besar bahkan nyaris putus, mereka tetap saja menikmati dotnya. Saya pikir biarlah perlahan saja, karena ingin Nane berhenti dengan sendiririnya. Mungkin butuh waktu sebentar lagi.

Ternyata benar tak lama dot Ana putus. Saya tidak menggantinya dan biarkan dia minum dengan dot yang bolong itu. Sudah pasti kesulitan. Sering tumpah dan dia pun jadi tidak nyaman sendiri.

Kesempatan ini saya gunakan untuk mulai membujuknya minum dengan menggunakan gelas atau sedotan. Berhasil, Ana mau minum. Tapi yang jadi masalah adalah saat Ane menggantung dot di mulutnya.

Dasar bocah, rebutan pun terjadi. Mau tidak mau saya juga harus menemukan cara untuk melepaskan dot Ane dalam waktu yang bersamaan. Diam-diam saya robek dot Ane hingga robek.

Baca juga:  Semua Tak Pernah Sama

Saat mengetahui dotnya juga bolong, Ane menangis dengan hebat. Saya kewalahan untuk menghentikannya. Memang Ane ini kalau nangis lebih lama dari Ana. Akhirnya dia diam sendiri karena capek. Bujukan pun dilakukan agar Ane mau mengguankan gelas, dan berhasil.

Menjelang malam hari, kami sedikit panik. Ini pasti akan menjadi malam yang panjang. Anak-anak pasti akan sedikit gelisah karena terbiasa minta dot susu tengah malam. 

Benar saja, menjelang tengah malam salah satu terbangun dan menangis karena minta susu. Mendengar tangisan, anak yang satu terbangun dan meminta hal yang sama. Masing-masing menggendong satu bayi dan berusaha menenangkan mereka hingga tertidur kembali.

Ini terjadi hingga beberapa malam. Setiap hari selalu melakukan evaluasi dan mulai mencari cara untuk mensiasati permasalahan yang terjadi jika malam tiba. Nasihat dan motivasi terus diberikan pada Nane saat menjelang tidur.

Harapannya adalah agar semua pikiran positif yang masuk saat kondisi yang tenang akan terekam dalam alam bawah sadarnya. Selain itu membiasakan minum susu 30 menit sebelum tidur pun mulai dibiasakan agar mereka tidak merasa haus saat tengah malam.

Alhamdulillah, dalam waktu lima hari, mereka berdua berhenti bergantung pada dot saat tidur dan tetap mau minum susu menggunakan gelas.

Saat itu Nane masuki usia 2,5 tahun. Setelah berhasil melepas dot, target saya selanjutnya adalah mulai biasakan mereka untuk tidur di kamar terpisah. Melihat perjuangan melepas dot yang luar biasa, kami pun membayangkan proses ini akan berlangsung lebih lama dan menantang. Tapi itu tak menyurutkan niat, karena saya yakin ini adalah yang terbaik untuk Nane.

Langkah pertama yang dilakukan adalah semua pindah kamar. Kami tidur di ruang TV dengan menggelar kasur pada malam hari. Suasana dibuat aman sehingga mereka tetap nyaman tidur.

Mereka tidak protes, malah seperti yang senang karena bisa tidur sambil nonton. Sementara itu, kami sibuk menyiapkan peralatan di kamar Nane. Mulai dari tempat tidur, kasur, selimut, sprei, lemari dan smeua pernik yang akan membuat mereka merasa betah.

Anak-anak pun mengetahui persiapan ini, dan sering dilibatkan untuk memilih warna atau barang kesukaannya. Bahkan posisi tempat tidur pun kami beri pilihan pada mereka. Siapa yang mau tidur di atas atau di bawah. Kebetulan saat itu kami membeli tempat tidur susun yang tidak tinggi.

Hingga semua persiapan selesai, kami pun mulai mengajak mereka tidur di kamar. Sekarang, semua pindah tidur ke kamar Nane. Lagi-lagi tidak ada protes, mereka merasa nyaman dan senang sekali dengan kamarnya. Selama beberapa hari keadaan ini berlangsung, sambil terus diberi motivasi melalui cerita tentang berani tidur berdua.

Langkah selanjutnya adalah mulai membiasakan Nane tidur siang berdua di kamar. Setiap mereka bangun, selalu diberi pujian dan diarahkan untuk mau tidur malam berdua saja. Memberi kepercayaan bahwa abah dan ummi akan selalu menjaga mereka.

Malam pertama pun mulai dicoba. Mereka semangat sekali untuk tidur berdua. Semua persiapan dilakukan. Kami mengantar ke kamar, lalu berbagi cerita hingga mereka tertidur.

Jelang tengah malam, teriakan terdengar. Kami berlomba masuk kamar sebelah. Tenyata kedua anak sudah duduk. Mereka terlihat menahan tangis karena takut. Saya jadi tidak tega sendiri melihat mereka. Lalu menjadi ragu, apakah ini saat yang tepat?

Keesokan harinya kami berdiskusi. Saya bermaksud mengurungkan niat untuk mengajarkan Nane tidur terpisah. Rasanya tidak tega harus melihat mereka tidur berdua saja. Tapi abahnya Nane mengingatkan kalau ini adalah proses yang harus dilalui, sehingga harus kuat dan beri dukungan pada Nane untuk bisa melewati masa ini.

Akhirnya saya pun menguatkan diri lagi. Malam kedua kami mencoba kembali. Ritual yang sama dilakukan. Mengantar mereka naik tempat tidur, membacakan cerita, berdoa, lalu menunggu mereka hingga terlelap tidur. Sering kami sampaikan kalau kami selalu ada dan Nane bisa panggil kapanpun jika membutuhkan.

Kali ini tangisan yang terdengar menjelang dini hari. Saya kaget bukan main menemukan Ane yang duduk sambil menangis. Rupanya Ane jatuh dari kasur. Ketika diperiksa bagian mana yang sakit, alhamdulillah tidak ada yang terluka. Mungkin hanya kaget saja. Akhirnya kembali habiskan sisa malam dengan menemani anak-anak tidur.  

Malam ketiga, empat, lima hingga selama dua pekan kami terus mengulang kejadian serupa. Tapi tidak mau menyerah. Apa yang sudah berjalan hanya butuh kesabaran dan kesempatan agar Nane dapat terbiasa.

Hingga akhirnya Nane dapat melewati malam dengan tenang. Mereka sudah tidak bangun dan menangis saat tertidur. Bahkan saat pagi hari pun mereka terlihat ceria. Mungkin mereka sudah merasa nyaman tidur berdua di kamar.

Apresiasi berupa pujian diberikan sebagai motivasi agar mereka konsisten dengan prestasinya ini. Nane pun diberi hadiah berupa boneka yang bisa dibawa tidur. Nane sangat bahagia dan menjadi semangat untuk tidur di kamar sendiri.

Nane, kecemasan Ummi akhirnya terbayar dengan banyaknya keberhasilan yang kalian lakukan. Mulai dari melepas dot dan tidur sendiri, itu adalah sesuatu yang luar biasa. Semangat dan kepatuhan kalian menjadi modal yang kuat untuk melewati semua masa sulit.

Semoga semakin banyak prestasi yang dapat diraih. Untuk Ummi, kemandirian dan kematangan sikap perilaku merupakan nilai tertinggi dalam sebuah proses untuk berubah menjadi lebih baik. Itu semua dapat dilakukan bertahap dan dengan penuh kesabaran.

Jadi, hingga kapanpun selalu semangat untuk mencoba dan taklukan tantangan ya, Nak.




14 komentar:

  1. Cerita yang seru mengingat perjalanan tumbuh kembang anak-anak ya teh

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya Miss, jadi kangen mereka waktu kecil...

      Hapus
  2. Alhamdulillah satu proses terlampaui. Masih ada langkah² berikutnya. Semoga lancar dan tanpa drama....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Bun, kadang drama masih hadir nih sampai sekarang. Tapi beda episode aja, hehe

      Hapus
  3. Saya pun pernah merasakan berat hati saat harus melatih anak-anak untuk tidur sendiri terpisah dari orang tuanya, alhamdulillah meskipun agak lama akhirnya berhasil juga. Sekarang ketika semua sudah usia sekolah sudah bisa saya tinggal untuk tidur di kamar lain, seru sharingnya bun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, kalau sudah terasa hasilnya bahagia, ya...

      Hapus
  4. Kalian emang keren. Termasuk Ummi nya. Saya lagi berjuang nih mbak ngajarin anak mau tidur sendiri, baru setengahnya karena kalau kebangun dini hari io masih menelusup masuk kamar dan nyempil bobo. Semanngat selalu ya untuk kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Xixi, iya ya, memang butuh perjuangan. Tapi semua akan ada masanya berhasil. Semangaaattt

      Hapus
  5. Mengajari anak untuk tidur terpisah dengan orang tua memang butuh kesabaran ya, Teh. Kitanya juga belajar tega demi kemandirian anak-anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu dia, kadang bukan anak yang enggak bisa diajarin, tapi memang ibunya yang belum tega. Jadi, kalau untuk kebaikan anak-anak mah harus jadi tega yaaa

      Hapus
  6. Yap harus tetap terus semangat dong ya bun dalam menyelesaikan tantangan satu demi satu. pasti bisa sih. hihi. Bismillah semoga semua terealisasi seperti yang diinginkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, hanya semangat dan terus berdoa selagi beriktiar, Mbak...

      Hapus
  7. Proud of you, twins.. Belajar menaklukkan tantangan bahkan sejak masih kecil. Kelak kalian akan terbiasa, twin...

    BalasHapus