Siapkan Kacamata Kuda Jelang Pembagian Rapot

Sumber: Pixabay

Pertengahan bulan Desember beberapa sekolah melakukan pembagian rapot semester 1. Banyak orang tua yang berharap cemas menanti saat ini. Mereka bertanya-tanya, bagaimanakah hasil belajar anak-anak selama 6 bulan terakhir ini?

Tidak jadi masalah jika pertanyaan itu bertujuan untuk mengevaluasi kegiatan belajar anak di sekolah maupun di rumah. Mengukur keberhasilan kerjasama antara guru dan orang tua dalam membimbing anak belajar. Namun realita yang ada, tak jarang orang tua justru menjadikan momen ini sebagai masa penghakiman.

Walau mereka menyadari sikap ini tidak baik dan berdampak buruk pada psikologi anak, namun banyak sekali hal yang dianggap sepele justru dilakukan dan abai terhadap perasaan anak.
Jika dibiarkan berlarut, tak mustahil karakter lemah dan negatif akan singgah dan bersarang dalam diri anak.

Lalu langkah apa yang harus dilakukan untuk menyikapi hasil belajar anak nanti?
Berhenti membandingkan
Anak bukanlah manusia kecil yang tak miliki perasaan. Membandingkan prestasi hanya akan membuat anak merasa tidak dihargai, bahkan memupuk sikap tidak menghargai diri sendiri. 

Setiap anak miliki potensi dan kecerdasan berbeda satu dengan yang lainnya, sebagai pemberian dari Tuhan yang harus disyukuri. Menggali kelebihannya akan membuat orang tua sadari, bahwa tak ada hak untuk membandingkannya dengan siapapun juga.

Hargai setiap usahanya
Sesuai dengan tahapan perkembangan usianya, anak pasti memiliki kemampuan melakukan sesuatu, termasuk proses belajar. Ketika anak belum maksimal menguasai sebuah materi bisa jadi dia hanya membutuhkan waktu untuk mempelajarinya.

Beri waktu untuk berlatih dan tetap membimbingnya adalah langkah terbaik yang dapat dilakukan orang tua. Menghargai setiap usaha dan membuatnya semakin percaya diri dengan apa yang telah dilakukan.

Arahkan minat dan bakat
Saat ini telah banyak sekali pendidikan nonformal yang dapat diikuti sebagai sarana untuk menyalurkan minat dan bakat. Ketika orang tua menyadari bahwa setiap anak miliki potensi yang berbeda, maka mereka akan menggali potensi yang dimiliki anaknya.

Mencari bimbingan terbaik untuk memunculkan kepandaiannya pada bidang tertentu dan memfasilitasinya agar semakin terasah keterampilan khusus. Ini akan menjadi bekal yang sangat bermanfaat bagi anak untuk menjalani kehidupannya kelak. Keterampilan yang dimiliki akan membuat mereka mampu bersaing secara posistif di dunia luar.

Beri pujian yang wajar
Permasalahan yang timbul pada anak tidak semua bermula dari kekecewaan atau kegagalan. Ketika anak mendapat apresiasi berlebih karena prestasinya yang gemilang, ini juga miliki potensi munculnya karakter yang kurang baik.

Tetap memberi nasihat untuk tetap rendah hati dan terus belajar untuk mempertahankan dan menambah prestasinya. Hal ini akan membuat anak tetap mengingat bahwa keberhasilannya bukan hal untuk dibanggakan secara berlebihan, namun jadi cambuk untuk terus rajin belajar.

Terima apa adanya
Jika prestasi anak tidak sesuai dengan harapan, maka tugas orang tua adalah menerima apa adanya. Tentu hal ini bukan dalam opsi pasrah tanpa melakukan apapun. Tapi menyadari bahwa kemampuan anak saat ini adalah hanya sebatas itu.

Hal lain yang harus dilakukan adalah mengevaluasi diri tentang langkah yang telah ditempuh. Pasti ada hal yang masih bisa diperbaiki bersama. Orang tua hanya harus menurunkan ego dan mau bekerja lebih keras lagi agar anak mendapat kesempatan untuk memperbaikinya.

Menjadi orang tua memang tidak ada pendidikan secara khusus. Tapi dengan mau belajar dan memperbaiki kesalahan, tentu akan menjadi jalan untuk bisa naik kelas, yaitu menjadi orang tua yang bijak.

Jika tidak mau kenakan kacamata kuda, kenapa tidak ubah mindset jelang pembagian rapot nanti?

16 komentar:

  1. Aku termasuk yang rada cuek sama nilai hasilnya. Karena, yang aku pikirin apakah dia mampu memahami pelajaran di sekolah atau nggak. Dan ini lebih penting karena aku ga mau dia ngejar nilai doang tapi nantinya dia ngga paham kenapa harus belajar memahami segala hal dulu sebelum melihat hasilnya.

    Jadi, memang butuh proses banget ya, mba. Menerima mereka apa adanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak, betul banget. Ternyata, bukan hanya anak yang harus belajar, justru orang tulah yang lebih dulu belajar.

      Hapus
  2. Betul sekali ini mba. Sudah saatnya kita menghargai setiap proses yang anak kerjakan. Toh kita jg gak senang kan dipaksa bisa. Setiap anak pasti punya kebiasaan di bidang tertentu, tugas kita menemukan, menggali, dan memfasilitasi ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Tugas kita membimbingnya denga kasih sayang, bukan paksaan. Suka kasihan kalau ada anak yang belajar karena obsesi orang tua. Enggak punya kebebasan jadinya, tuh...

      Hapus
  3. Akupun nggak pernah ambil pusing sama raport anak-anak mba. Kebetulan anak-anakku termasuk yg nggak terlalu cetar gimana gitu di bidang akademik. Yg sulung lebih menyukai seni . Yang kecil lebih ke kinestetik. Yowes, selow aja. Semua anak kan unik dan punya kelebihan masing-masing.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, kayak begini suka pengen tooos jauh😁

      Semua anak cerdas, kok, hanya perlu kejelian orang tua dan guru untuk temukan talenta ya.

      Hapus
  4. Anak-anakku juga ngga ada yang wah banget secara akademik, biasa-biasa aja. Dan aku juga termasuk yang ngga terlalu ambil pusing sama raport anak. Yang penting mereka paham dan sudah berusaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyeeess, semoga semakin banyak orang tua yang menyadari prestasi akademik bukan segalanya

      Hapus
  5. Yuni belum punya keluarga sendiri. Palingan cuma adik bungsu sih yang kemarin baru terima raport. Nggak banyak pertanyaan kalau sama dia mah. Dapat nilai bagus terus meski nggak jadi yang pertama. Tapi ya sudahlah, itu kemampuannya. Penting sih bagi Yuni buat mengingatkan adik bahwa nggak selalu juara itu penting. Satu hal yang utama adalah usaha dia dalam belajar. Udah sih itu aja. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siiip, jadi bekal juga kalau nanti punya keluarga sendiri, ya, Mbak Yuni..

      Hapus
  6. Sangat swtuju, orangtua yg hrs belajar lbh dulu dan saya dulu melkukan itu. Jd saya dpt mengajari sg benar sesuai kemampuan anak.
    Kasian kan klo anak dipaksa, yg utama dampingi anak & beri penjelasan secara bertahap.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Bunda, orang tua harus jadi role model, yaa

      Hapus
  7. Alhamdulillah saya dan suami tak pernah permasalahkan nilai apalagi peringkatnya anak-anak.
    Mereka santai saja selama sekolah. Dan hasilnya empat orang sudah selesai sekolahnya, dan tiga di antaranya sudah bekerja sesuai minat dan bakatnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aah, iyaa, saya sering baca tulisan Bunda tentang anak-anaknya. Mereka terlihat bangga juga dengan Bundanya yang super🤩

      Hapus
  8. Raport hari gini tentu berbeda dari raport zaman saya dulu yang masih ada rangking2an atau dibagi raportnya berdasarkan rangking. Bisa diceramahin dan disuruh belajar saat liburan kalau prestasinya turun, hahahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. He... Iya, kalau orang tuanya masih enggak bisa move on dari pola pendidikan yang kolot, yaa

      Hapus